Senin, 02 Januari 2012

Cover Edisi 64/ Januari 2012


63- DWP Kab.Ngawi Berbagi Keceriaan

HUT ke-12 Dharma Wanita dan HUT ke-40 Korpri di Kab. Ngawi //
Berbagi Ceria Bersama Siswa SDLB dan SMPLB

Istri Bupati Ngawi, Ny. Antik Budi Sulistyono saat menyambangi sekolah penyandang cacat SDLB dan SMPLB di Jalan Trunojoyo merasa tergugah hatinya melihat para siswa SDLB dan SMPLB yang memiliki keterbatasan fisik dan mental tetap belajar dengan semangat dan berkeinginan kuat untuk maju.
Dalam kunjungannya itu, Ny.Antik Budi S juga juga selaku penasehat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kab.Ngawi menyempatkan diri untuk belajar dan berbincang bareng. ”Sungguh luar biasa keinginan mereka (Siswa SLB ), untuk terus belajar,” tutur Ny. Antiek BS di sela – sela kunjungannya ke sekolahan SLB.
Untuk memotivasi dan memompa semangat belajar siswa, istri Bupati Ngawi itu memberikan sejumlah tas dan seperangkat alat tulis. Pemberian perlengkapan sekolah itu diprioritaskan kepada siswa siswi yang berasal dari keluarga yang tidak mampu. ”Biar nanti sekolah yang mendata dan membagi barang – barang yang kami berikan yang seluruhnya berupa peralatan sekolah,” tambahnya.
Kegiatan semacam ini patut menjadi agenda rutin tahunan DWP Kab.Ngawi, khususnya sebagai peringatan HUT Dharma Wanita ke-12 tahun, tepatnya 12 Desember mendatang serta HUT Korpri yang ke 40. “Untuk kegiatan sosial nantinya memang akan lebih kami prioritaskan. Jadi mulai sekarang sudah kami rencanakan program kegiatan apa saja yang bermanfaat bagi masyarakat yang tidak mampu,“ katanya.
Bhakti sosial itu juga diikuti dr.Ana Mursidah istri wakil bupati Ny. Ony Anwar Harsono, Ny.Cicilia Poedjiyatie Agoes Nirbito dan Kepala Dinas Pendidikan (Kandindik) Abimanyu. Mereka juga menyempatkan berbincang – bincang dengan para tenaga kerja guru dan siswa –siswi. (hms)


63- Gus Ipul Bung Tomo Award

Gus Ipul: Bung Tomo Award untuk Pengabdi Masyarakat
Bung Tomo award merupakan salah satu wujud penghargaan yang diberikan oleh pemerintah Jawa Timur bagi pemuda dan masyarakat Jawa Timur yang memiliki prestasi dalam mengabdi kepada masyarakat dan negara secara tulus dan ikhlas.Hal tersebut disampaikan Wakil Gubernur Jawa Timur, Drs. H. Syaifullah Yusuf pada acara Penganugerahan Bung Tomo Award tahun 2011 di Gedung Radio Republik Indonesia (RRI) Surabaya, Jumat (18/11) malam.
Menurutnya, pemenang penghargaan Bung Tomo Awards ini merupakan pahlawan saat ini yang berjuang di lingkungan masyarakat dalam berbagai bidang yakni sosial, pendidikan dan lingkungan hidup. “ Pemenang Bung Tomo Award, merupakan little winner atau pemenang kecil yang berapresiasi di tempatnya masing-masing untuk berguna bagi masyarakat sekitarnya. Mereka bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk lebih peduli dengan keadaan sekitar dengan rasa ikhlas dan tulus,” ujar Wagub Jatim itu.
Bung Tomo Award dibagi menjadi tiga kategori yakni kategori sosial, pendidikan dan lingkungan hidup. Pada kategori sosial pemenangya adalah Ulo Topan, salah satu pekerja di Liponsos Keputih Surabaya yang mengabdikan hidupnya untuk merawat sekitar 432 orang orang .untuk kategori pendidikan dimenangkan oleh Askim , salah satu pemerhati pendidikan yang mendirikan SLB Karya Bhakti Sidoyoso Wetan Surabaya dan di kategori lingkungan hidup dimenangkan oleh Imam Rochani penjaga kali Surabaya, salah satu pemerhati lingkungan hidup di sungai-sungai di sekitar Surabaya.
Para pemenag Bung Tomo Award merupakan masyarakat biasa yang memiliki rasa ikhlas dan tulus dalam membantu sekitar. “Para pemenang ini, berasal dari masyarakat biasa, yang dengan tulus memperhatikan lingkungan dan kondisi saat ini, “ ujar Gus Ipul sapaan akrab Wagub Jatim itu.
Pada kesempatan yang sama, Gus Ipul menyampaikan sebagai bangsa yang besar, setiap lapisan masyarakat harus selalu mengingat sejarah. Salah satunya adalah sejarah pahlawan yang telah mengabdikan nyawanya demi kemerdekaan bangsa ini. “Jangan sampai kita melupakan sejarah bangsa ini, karena bangsa ini bisa menjadi besar tanpa sejarah itu. Kita wajib mempertahankan nilai lama yang baik itu,” tambahnya.
Selain mengingat sejarah, kunci menjadi bangsa yang besar adalah membentuk moralitas, akhlak dan adat istiadat yang baik. Hal itu perlu dikembangkan demi sebuah kemajuan bangsa. “Indonesia bersyukur diwaris budaya, akhlak dan moralitas yang bagus karena bisa mnejadi modal utama untuk maju dan wajib kita pertahankan tradisi itu,”tandasnya. (tra)


63- Bude Ajak kader PKK Melayani dengan Senyum

Bude Karwo Ajak Kader PKK Melayani dengan Senyum
Ketua Tim Penggerak PKK Prov.Jatim Dra.Hj.Nina Soekarwo, MSi mengajak para ibu kader PKK untuk selalu tampil menyenangkan, dan melayani warganya dengan senyum. Senyum itu membuat kita awet muda, apalagi kalau lagi tepuk tangan dibarengi ekspresi wajah senyum. Senyum akan membuat urat syaraf wajah bergerak dengan rileks.
“Karena di wajah kita ada sekitar 60 urat syaraf, dengan murah senyum akan bisa berpengaruh pada raut wajah dan bisa awet muda serta mengurangi stres,” tuturnya ketika melantik dr.Restu Suyanto, M.Kes sebagai Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) Kab.Jombang, periode 2008-2013, Senin (31/10) lalu. .
Pelantikan ini harus dilakukan karena Ketua TP-PKK secara fungsional adalah istri para kepala daerah, dan di Jombang ini merupakan pergantian ketua antarwaktu. Diharapkan dengan tinggal sisa kurun waktu 2 tahun lebih TP-PKK Jombang bisa mengoptimalkan aktivitas kegiatannya.
Bude mengatakan,stressing atau penekanan program pokok PKK tahun ini difokuskan pada peningkatan derajat kesehatan ibu. Karena, orientasi dalam pelaksanaan program kerja PKK tahun ini dan lima tahun ke depan mengacu pada program MDG’s.Sedangkan dari delapan program PKK sudah sesuai dengan program MDG’s, maka program kesehatan dianggap paling signifikan untuk menangani segala permasalahan di masyarakat.
Ini karena di dalamnya sudah termasuk program air bersih dan sanitasi maupun lingkungan. Jadi, dengan menggarap program kesehatan maka sekaligus bisa menyelesaikan beberapa masalah di dalamnya. Untuk itu, PKK tahun ini memfokuskan masalah kesehatan baik untuk ibu maupun anak.
Selanjutnya Bude mangatakan, untuk masalah kesehatan bayi baru lahir atau kesehatan ibu melahirkan di Jombang sudah tidak ada masalah, karena sudah relatif bagus. Yaitu untuk angka kematian ibu melahirkan di Jombang masih berada di bawah angka rata- rata Jatim, yaitu 79,34 persen.
Bude Karwo mengatakan, mengapa derajat kesehatan di Jombang dikatakan jauh lebih baik dari pada rata- rata angka kesehatan di Jatim. Karena data dan faktanya memang demikian. Data dari Dinas Kesehatan Prov. Jatim, angka kematian ibu melahirkan tahun lalu masih berada pada posisi 90,7 per 100 ribu. kelahiran dan saat ini angkanya sedikit meningkat yaitu menjadi 91 per 100 rb. kelahiran
Kalau masalah kesehatan sudah bagus, tambahnya, berarti generasi masa depan nanti sudah pasti lebih baik dari yang lainnya. Sebab, pembentukan sel kecerdasan otak sebanyak 80 persen itu dibentuk mulai dari dalam kandungan yaitu usia 0 s/d anak usia empat tahun dan 30 persennya lagi dibentuk anak usia lima hingga delapan dan sisanya yaitu 20 persen anak usia delapan tahun hingga usia 18 tahun.

4 Poin bagi Dekranasda

Dalam kesempatan itu, Bude Karwo selaku Ketua Dekranasda Prov. Jatim juga menyebutkan,
ada empat poin yang harus diperhatikan dan dijalankan oleh setiap Dekranasda yang ada di daerah (Kabupaten maupun di Kotamadya).
Ke-empat poin itu; pertama peningkatan program perluasan jaringan pasar; kedua peningkatan program kemitraan kerjasama melalui perjanjian untuk peningkatan kesejahteraan dan produksi; ketiga adalah peningkatan SDM guna meningkatan daya saing dan terakhir adalah peningkatan kinerja guna menumbuhkan budaya kreatif dan inovatif untuk menyongsong tumbuhnya ekonomi kreatif.
Sebab, bagaimanapun Dekranasda yang ada di Jombang adalah organisasi yang mewadahi atau yang mengkoordinir teman- teman para pengrajin atau pengusaha untuk satu tujuan yaitu mencapai cita- cita yang dapat mensejahterakan anggota dengan modal kebersamaan dan kekeluargaan. Karena di Jombang banyak pengrajin handal hasil produksinya tidak kalah dengan produk luar negeri
“ Untuk itu, kembangkan terus kreativitas dan inovasi agar ke depan Jombang tambah eksis dan bertambah jaya. Utamanya bagi para pengrajin dan masyarakat sekitarnya,” tegasnya. Untuk itu, kami mengharap adanya support dari ketua Dekranasda yang baru dan pembinanya, yaitu untuk segera mengadakan pameran hasil kerajinan. Karena, bagaimanapun baiknya hasil produk kerajinan itu, kalau tidak pernah dipamerkan, maka tidak akan ada orang yang kenal atau tahu.
Sementara itu, Bupati Jombang Drs. Suyanto, MM mengatakan, Dekranasda Jombang memang sempat tidur sesaat, tetapi saat ini sudah bangun dan kami yakin sesaat lagi Dekranasda Jombang akan lari untuk mengejar ketertinggalannya agar bisa sama berdiri dan berlari untuk mampu tumbuh dan berkembang seperti di Kab/ Kota yang lain.

Menurutnya, dengan perempuan Jombang akan bisa menjadi salah satu kabupaten di Jawa Timur yang ramah terhadap anak, Kerena peran pemerintah daerah sebagai fasilitator yang terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana untuk tumbuh kembangnya anak-anak menjadi anak sehat. Kemudian dapat melanjutkan kultur Jombang bisa memberikan kotribusi besar terhadap perjalanan NKRI kerena telah melahirkan tokoh-tokoh besar bertaraf internasional
Selain itu pemerintah Kabupaten Jombang terus mendorong kedudukan kaum perempuan agar terus berkembang. Karena saat ini perekonomian Jombang banyak dikendalikan oleh kaum perempuan. Pelaku-pelaku ekonomi mikro, menengah dan makro didaerah ini banyak pelakunya kaum hawa. Oleh sebab itu peran perempuan di Jombang sungguh luar biasa.
Di Jombang persamaan gender sudah berjalan cukup baik, dicontohkan kaum perempuan sebagai penjaga jaringan dan kaum lelaki tugasnya mencari nafkah. Jika di sektor pertanian laki-laki bertugas mencangkul tanah sawah, perempuan bertugas matun (merawat padi) ini merupakan pembagian tugas seksual laki-laki dan perempuan. (ji)





63- PKK Gresik Sayang Ibu

Kab. Gresik Masuk Monimasi
Program Gerakan Sayang Ibu

Tim Penggerak PKK Kabupaten Gresik sebagai mitra kerja pemerintah mendukung niat Pemkab Gresik untuk mempermudah izin praktek bidan dan tenaga kesehatan di desa-desa. Bersama 4 Kabupaten / Kota lain se Jawa Timur, Kabupaten Gresik masuk nominasi program Gerakan Sayang Ibu di tingkat Propinsi Jawa Timur.
Bupati Gresik, Dr. H. Sambari Halim Radianto, ST, Msi, dihadapan rombongan tim penilai lomba Gerakan Sayang Ibu tingkat Propinsi Jawa Timur yang diketuai Drs. Irawanto Amanda, Msi, mengatakan Pemkab Gresik sangat konsen dengan masalah kesehatan. Banyaknya industri di Gresik, masalah penanganan kesehatan perlu mendapat perlakuan khusus, Pemkab berupaya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat guna menekan tingkat prosentase kematian ibu melahirkan dan anak, setidaknya setara dengan Kabupaten / Kota yang lain di Jawa Timur.
Menurut data dari Kantor Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan pada tahun 2010, angka kematian ibu melahirkan sebanyak 105 per 100 ribu kelahiran. Sedang angka kematian bayi sekitar 2,48 per 1000, sehingga Pemkab menempuh meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, diantaranya dengan mempermudah izin praktek bidan dan tenaga kesehatan di desa-desa.
Supaya Palang Merah Indonesia ( PMI ) Gresik tidak sampai kekurangan darah, Pemda mengoptimalkan peran unit transfusi darah PMI Gresik untuk pro aktif menjemput pendonor di perusahaan dan organisasi sosial kemasyarakatan. Pada saat tertentu, unit transfusi darah PMI Gresik bisa membuka gerai donor darah di tempat-tempat keramaian pada malam hari, misalnya di alun-alun dan di mall.
Program lain yang perlu ditingkatkan melalui program pokok PKK di desa-desa diantaranya anggota PKK di desa membuat program tabungan untuk ibu bersalin. Selain program menabung, PKK di desa-desa diminta untuk mengajak keluarganya untuk donor darah , bertujuan barangkali pada saat melahirkan terjadi kekurangan darah atau tidak adanya darah dengan jenis yang sama.
Usai diterima Bupati Gresik, dengan diantar Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Gresik, Hj. Maria Ulfah Sambari HR, wakil Ketua TP. PKK Gresik Hj. Zumrotus Shilihah Qosim, seta Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP ) Gresik, Hj. Noer Azizah Nadjib, menuju ke desa Palebon, Kecamatan Duduksampeyan, Kabupaten Gresik. ( Har ).

63- Sumenep Sentra Kuliner Ikan Laut

Hj.Wafiqah Jamilah:

Kita Jadikan Sumenep sebagai
Sentra Kuliner Laut Jawa Timur

Sebagai kabupaten yang memilki lautan hampir 50.000 kilometer persegi, Kabupaten Sumenep menyimpan kekayaan bahari yang cukup tinggi. Hal ini seharusnya menjadi semangat menjadikan Kabupaten Sumenep sebagai sentra kuliner laut di Jawa Timur.
Demikian disampaikan Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan ) Kabupaten Sumenep Hj Wafiqah Jamilah saat meninjau stan Super Mantap Sea Food Festival dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Ke 742 Kabupaten Sumenep di depan Museum Keraton Sumenep, Selasa (15/11) lalu.
Menurut Nyi Mila, sapaan akrabnya, potensi kelautan yang ada, termasuk kekayaan ikan haruslah mendorong bagi pertumbuhan ekonomis masyarakat dan bernilai ekonomis. Hal ini tidak lepas dari semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan masakan khas laut. “Daripada kita hanya mengkonsumsi dan jual seperti apa adanya, kan lebih bernilai jual jika dikemas dalam bentuk masakan laut,” tutur Ketua TP PKK Kab.Sumenep ini.
Menurutnya, ke depan Kabupaten Sumenep harus menjadi sentra masakan kuliner yang berasal dari kekayaan laut, setidaknya di Jawa Timur. Oleh karena itu, lanjutnya, dirinya dan segenap stake holder yang lain telah berupaya semaksimal mungkin. “Bahkan kemarin kita juga telah mempromosikan beberapa masakan khas Kabupaten Sumenep ke daerah lain. Mudah-mudahan ini akan tetap berlanjut,” jelasnya.
Ditanya langkah apa saja yang akan dilakukan, istri Bupati Sumenep ini menjawab akan ada tiga hal yang akan dilakukan. Pertama, akan melakukan inventarisasi terhadap keunggulan-keungulan di setiap kecamatan, khususnya yang punya keungulan kelautan yang akan dilanjutkan dengan pemberian training-training khusus kepada mereka yang benar-benar siap untuk mengembangkan produk lokal.
Selanjutnya, kita akan terus intensif melakukan promosi-promosi wisata kuliner ke daerah lain baik secara formal maupun non formal, tambah perempuan kelahiran Surabaya ini bersemangat.

Tertinggi di Jatim
Di tempat yang sama, Bupati Sumenep, KH A Busyro Karim sangat mendukung gagasan Sumenep menjadi Sentra Masakan Kuliner Laut di Jawa Timur. Menurut Ketua DPRD Sumenep Tahun 1999-2009 ini, dirinya akan terus mendukung segala upaya yang ingin meningkatkan nilai ekonomis produk masakan lokal ini, khususnya masakan dari kekayaan ikan yang ada di Kabupaten Sumenep.
Ia berpesan agar dalam pengelolaan produk lokal ini hendaknya memperhatikan 2 hal. pertama, makanan lokal harus mengikuti standar yang digunakan makanan/ menu impor, yaitu sehat, standarisasi bahan, penyajian, pengolahan dan rasa. makanan tradisional tidak berarti kumuh, kotor dan tidak berkelas.
Ke dua, perlu dilakukan promosi tiada akhir agar brand makanan tradisional/ lokal juga kuat sebagai makanan bergengsi, layak masuk mal/restoran dan tempat prestise lainnya.
Super mantap Sea Food Festival diselenggarakan dalam rangka pengukuhan pengurus Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Kabupaten Sumenep dan diikuti oleh instansi pemerintah, swasta, hotel dan restoran yang ada di Kabupaten Sumenep. Dalam festival tersebut, peserta menyajikan berbagai makanan laut dengan berbagai bentuk, kemasan, penyajian, yang menampilkan kekhasan keragaman makanan laut.
Sebagai informasi, Kabupaten yang telah berusia 742 tahun ini memiliki luas laut 50.000 Km2, panjang pantai 557,76 km2 dan ditunjang oleh keberadaan 126 pulau. Bahkan sebagaimana data yang dihimpun oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Jatim, konsumsi Ikan di Kabupaten Sumenep merupakan yang tertinggi di Jawa Timur dengan konsumsi 28,30 Kilogram Per kapita/ tahun melampaui konsumsi ikan Jatim yang hanya 19,2 kg per kapita/tahun.
Sedangkan produksi ikan laut di Kabupaten Sumenep mencapai 44.900,2 ton per tahun belum termasuk jenis ikan yang lain.(hel)

Univ. Wijaya Kusuma Expo NTT

KPDT Expo 2011 Tingkat Nasional di NTB //

Stan UWKS Tampilkan Berbagai
Hasil Penelitian Para Mahasiswa

Pagi itu tim pameran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS), dari Bandara Juanda Surabaya menuju Bandara Selaparang, Kota Mataram di Lombok. Tepat pukul 07.30 WIT pesawat mendarat dengan selamat dan mendapat sambutan hangat dari panitia lokal yang siap mengantar para peserta pameran menuju penginapan di Asrama Haji kota Selong Lombok Timur NTB.
Pameran ini sedianya diselenggarakan mulai 28 September s/d 1 Oktober 2011, karena bersamaan dengan peresmian (soft opening) Bandara Internasional Lombok, acara ditunda sehari.
Karena pemesanan tiket yang tidak mungkin dibatalkan, kedatangan tim UWKS ini terlanjur lebih awal sehari, sehingga dimanfaatkan untuk berkeliling melihat keindahan Pulau Lombok mulai dari menyusuri Pantai Senggigi, melewati dermaga yang akan menuju Gili Terawangan dan kedua pulau disampingnya, memang sangat indah pemandangan pantai Barat Pulau Lombok ini.
Dari Lombok Barat sejauh itu tampak perkebunan Kelapa, Lontar dan sebagian pohon Siwalan mendominir pemandangannya. Perjalanan melintasi pedusunan dan perkampungan di Lombok Tengah, kemudian sedikit melintasi daerah Lombok Timur dengan ibu kotanya Praya dan kembali ke kota Mataram.
Dari sepintas jalan-jalan mengelilingi sebagian Pulau Lombok ini dapat diambil kesimpulan, tidak salah bila Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal memilih lokasi pameran nasional yang untuk pertama kalinya ini (sebelumnya selalu di Jakarta).
Kamis 29 September 2011 pukul 16.00 waktu setempat pameran nasional KPDT EXPO 2011) ini dibuka secara resmi oleh Menteri PDT didampingi Wakil Gubernur NTB dan Bupati Lombok Timur. Acara pembukaan sangat meriah dengan diiringi bunyi-bunyian Kendang Beleq, sebuah kasenian khas masyarakat Lombok yang sangat rampak dan atraktif dalam memainkan peralatan kendang besar yang disandang dengan selendang tenun ikat khas Lombok di depan pemainnya.
Masyarakat Sasak (penduduk asli Pulau Lombok) yang hadir hampir semua mengenakan busana adat yang beraneka warna, menambah keanggunan acara pembukaan. Acara ini dilanjutkan dengan peninjauan oleh rombongan Menteri PDT beserta ibu yang juga mengenakan busana adat suku Sasak.
Stan Universitas Wijaya Kusuma menampilkan hasil-hasil penelitian dari beberapa Program Studi yang ada di Fakultas UWKS ( ada 8 Fakultas dengan 23 Program Studi dan Pascasarjana dengan 4 Program Magister). Antara lain; Program Studi Kedokteran Hewan menampilkan Energi Listrik dari Kotoran Sapi.
Perlu diketahui bila peternak memiliki 5-6 ekor sapi dengan memberikan konsentrat (berupa permen sapi) kotorannya ditampung dalam tangki kemudian biogas yang dihasilkan dapat digunakan untuk memasak pada pagi hari dan dimanfaatkan untuk menggerakan generator melalui peralatan conventer, sehingga dapat dihasilkan tenaga listrik sebesar 2000 watt selama 4 jam pemakaian pada malam harinya.
Sementara itu Program Studi Teknologi Industri Pertanian dari Fakultas Teknik UWKS membawa hasil olahan berupa minuman cooktail Siwalan dan memperkenalkan pembuatan Gula Kristal Siwalan (Gula Semut) yang sangat diminati oleh industri makanan kemasan karena memiliki aroma yang khas dan bersifat anorganik.
Ini dapat dikembangkan di daerah yang memiliki banyak pohon Siwalan, terutama di daerah pesisir serta memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada hanya disajikan seperti gula merah atau gula aren batokan seperti selama ini dikerjakan oleh para petani di daerh pesisir seperti di sepanjang pantai Barat Pulau Lombok ini.
Program Studi Teknik Informatika pada Fakultas Teknik UWKS tidak mau ketinggalan dengan menampilkan model peralatan Parabola yang terbuat dari wajan penggorengan (peralatan dapur). Ini berguna bagi daerah-daerah yang ada di blank spot yang terhalang gunung dari pemancar televisi atau menara seluler provider komunikasi. Peralatan yang tepat guna dan murah serta dapat dibuat dengan mudah oleh masyarakat di daerah tertinggal. Juga memperkenalkan pembuatan warnet dan koperasi didaerah pedesaan untuk membuka keterisolirannya dari daerah lainnya.
Program Studi Agronomi dari Fakultas Pertanian UWKS menampilkan Produk jadi Parfum yang terbuat dari daun tanaman mawar dengan teknik kultur jaringan, kebiasaan memanfaatkan bau harum bunga mawar selalu diambil dari mahkota bunga mawarnya, tetapi ini diambil dari daun mahar dan tidak kalah harum baunya yang terbuat dari bunganya. Hal ini lebih mudah untuk mendapatkan bahan baku dan tidak mengenal musim adanya daun mawar ini.
Selain itu tidak ketinggalan Rektor UWKS juga menitipkan hasil penelitian untuk dimasyarakatkan tentang Anti Rayap yang dapat mengawetkan bangunan rumah di pedesaan yang karena tingkat kelembaban dan bahan bangunan dari kayu yang mudah diserang rayap. Dengan teknik tepat guna menggunakan pipa paralon dan teknik gravitasi, cairan pembasmi rayap yang dapat dibeli di toko kimia dimasukan kedalam tanah cukup melindungi bangunan dari serangan rayap yang merugikan. Juga teknik penanggulangan serangan Hama Wereng yang banyak merugikan petani di pedesaan.
Stan pameran UWKS ini senantiasa ramai dikunjungi masyarakat kota Selong, terutama para pelajar yang ingin menambah pengetahuan dan mencari informasi untuk kelanjutan studi mereka kelak bila ingin melanjutkan ke perguruan tinggi. Para peserta pameran sendiri juga banyak tertarik hasil-hasil penelitian UWKS, mereka ingin menerapkan di daerah masing-masing. Untuk itu stan UWKS telah menyiapkan brosur yang dilengkapi dengan Contac Person langsung kepada para peneliti dari UWKS dan beberapa souvenir berupa kaos dan gantungan kunci yang sangat diminati para pengunjung pameran.
Semoga dari Pameran semacam ini dapat dimanfaatkan oleh masyarakat di daerah tertinggal agar lebih cepat mengejar ketinggalannya dari daerah lain yang telah maju sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi UWKS serta mendekatkan keberadaan UWKS kepada masyarakat yang memerlukan pendidikan tinggi bagi putera-puterinya selama ini.(drs)





Cover edisi 63- WIRA LINA

Wira Lina, SE
Calon Ketua Parfi Jatim 2011-2016

Siap Membangkitkan Perfilman Bersama Parfi Jatim

Nama Wira Lina sudah tidak asing lagi di kalangan Prsatuan Artis Film Indonesia (Parfi) Jawa Timur. Wanita kelahiran Surabaya, 15 September 1975 saat ini menduduki jabatan sebagai Sekretaris Parfi Jawa Timur. “Sejak dulu saat menjabat sebagai Sekretaris Parfi saya selalu mendapatkan dukungan dari keluarga maupun sahabat dan relasi. Dan semua itu, saya lakukan itu demi Parfi Jawa Timur,” ujar Wira Lina saat menerima Kirana beberapa saat lalu.
Wanita murah senyum ini mengatakan walaupun jabatannya berakhir bulan Juni 2011 lalu, bukan berarti dedikasi Wira Lina akan berakhir pula dalam mengurusi Parfi Jawa Timur. Lina demikian panggilan akrabnya, akan berusaha untuk membangkitkan kembali dan memperjuangkan nama besar Parfi Jawa Timur. “Walaupun nama Parfi Jawa Timur sempat mati suri saya akan berusaha membangkitkan kembali seperti zaman emas Parfi Jawa Timur dulu. Untuk itu, saya berharap masayarakat,dan pemerintah bisa ikut andil membangkitkan nama Parfi Jawa Timur. Selain itu juga, rekan-rekan pers juga harus ikut membangkitkan Parfi Jawa Timur,” ujar Lina berharap.
Istri dari pengusaha batubara, H. Syamsul AS, berkiprah dalam dunia intertaiment sejak tahun 1982. Dia mengawali sebagai model dengan menjuarai berbagai lomba seperti juara umum Putri Andalan Indonesia tahun 1994, serta 155 kejuaran lainnya dibidang model. Seiring dengan waktu, Lina mulai mencoba menjajaki dunia action ditahun 1990. Beberapa film yang pernah ia bintangi antara lain Kidung Sunyi Sang Biduan (SCTV, 1993), Gelora Sunyi Sang Biduan (TPI, 1993), Gelora Samudra (TPI, 1994), Madu Racun Dan Anak Singkong I, II (TPI, 1994), bintang tamu Ketoprak Humor (RCTI), Dr. Sartika (TVRI, 1990), Bulan Madu ke Dua (1994), Bintang Kejora (1994) dan FTV terbarunya Bercanda Dengan Nyawa sebagai Rukamah (SCTV, 2011), Surabaya 1945, film terakhir adalah film semi dokumenter berjudul Purnama di Bumi Majapahit (2011) yang rencananya film ini akan diikutkan ajang Festival Film Indonesia (FFI).
“Walaupun waktu saya sangat padat dengan bisnis lainnya dan sangat terbatas bukan berarti saya harus melupakan kewajiban sebagai seorang ibu dan istri bagi suami. Bagi saya paling utamakan adalah keluarga dimana harus menjaga terus perkembangan anak-anak. Saya rasa, apa yang saya lakukan ini sudah mendapatkan dukungan dari suami maupun anak-anak,” papar ibu dari Felisha Lauren Kavita Dewi dan Claudya Izhabela Aurellia ini.
Selain berkecimpung didunia entertainment Lina masih menekuni bisnisnya dibidang Batubara dan memiliki perusahaan sendiri yang ia pimpin. Wanita berpenampilan modis ini mengakui, dirinya tidak bisa menghilangkan dunia entertainment karena dunia itu yang membawa nama bisa melejit sampai sekarang.
“Saya dilahirkan dari dunia entertainment ini, tidak mungkinlah saya akan membuang begitu saja. Justru saat ini saya telah berusaha mencari bibit-bibit baru untuk meramaikan perfilman Jawa Timur lewat Production House PT. Wira Sinema ini. InsyaAllah, PT. Wira Sinema dilauching akhir tahun ini,” lanjutnya.
Wanita murah senyum ini berharap dengan terpilihnya Aa Gatot Brajamusti sebagai Ketua Parfi Pusat baru akan menjadi inspirasi baru bagi anggota Parfi Jawa Timur dan memberi regenasi muda bagi anggota Parfi Jawa Timur. Selain itu, Lina menginginkan dari Ketua Umum baru bisa mendukung untuk merealisasikan produk-produk film Parfi Jawa Timur. “Kami berharap dengan adanya Ketua Parfi baru ini bisa memberi inspirasi baru pada anggotanya terutama dari Jawa Timur. Saat ini pemerintah Jawa Timur sudah mulai mendukung langkah-langkah Parfi Jawa Timur,” sambungnya.
Disingung masalah untuk tampil sebagi Ketua Parfi Jawa Timur, ia mengatakan masih belum memiliki pikiran untuk menjadi ketua. Dirinya lebih memfokuskan diri untuk membangkitkan nama Parfi Jawa Timur dulu melalui kegiatan atau event. “Bagi saya adalah bagaimana cara agar nama Parfi Jawa Timur bisa berkibar kembali dimasyarakat. Soal saya mencalon diri, ah kita lihat saja nanti mas,” ujar Lina sambil tersenyum.
Adapaun visi dan misi yang dimiliki Lina adalah Eksistensi Parfi menjadikan organisasi wadah persatuan bagi insan film di Jawa Timur. Disamping itu, bersinergi dengan masyarakat, birokrat, rekan sejawat untuk melaksanakan amanah yang telah diberikan serta melaksanakan tugas pokok dan fungsi organisasi yang sesuai dengan AD/ART. “InsyaAllah jika kelak terpilih sebagai Ketua Parfi Jatim saya akan berusaha memberikan yang terbaik bagi masyarakat khususnya insan perfilman Jawa Timur ini,” paparnya.
Disamping itu juga harapan yang dimiliki Lina terhadap semua calon Ketua Parfi Jatim agar memberi dukungan dan semangat bagi perfilman Jawa Timur. “Siapapun yang terpilih menjadi Ketua Parfi Jawa Timur 2011-2016 nanti hendaknya patut kita dukung dan beri semangat perjuangan dalam mengemban tugas demi terwujudnya insan perfilman kedepan lebih baik dan sukses sebagai tertuang dalam AD/ART Parfi,” tutup Lina berharap. (ali)

Rabu, 07 Desember 2011

Cover edisi 63- Wira Lina, SE

Usung Siwalan, PKK Kab.Lamongan Juara III

Keikutsertaan Tim Penggerak PKK Kabupaten Lamongan dalam Festival Makanan Khas Daerah dan Pameran Produk-produk Unggulan Kabupaten/Kota se Bakorwil Bojonegoro tidak sia-sia. Dengan mengusung makanan khas Lamongan, wingko dan dawet siwalan, mengantarkan TP PKK Kab.Lamongan menjadi juara ketiga.
Sementara juara pertama sebagai penyaji terbaik festival yang dibuka Sekretaris Bakorwil yang sekaligus Sekretaris Panita, Deddy Ferdinan itu diraih Kota Kediri. Juara kedua diraih Kabupaten Jombang. Selanjutnya Kota Kediri menjadi juara dengan sajian makanan berupa brownies dari ketela ungu dan ubi asam manis.
Festival itu sendiri seperti disampaikan Deddy untuk menyambut peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-66. Selain Lamongan, Kota Kediri dan Jombang, festival tersebut diikuti delapan kabupaten dan kota se Bakorwil Bojonegoro.
Juri festival bukan hanya menilai pemanfaatan pangan lokal khas daerah saja. Namun juga kreatifitas pengembangan resep pangan lokal, aspek gizi, penampilan dan penyajian. Kemudian cita rasa serta termasuk nilai komersial produk tersebut.
Ketua TP PKK Lamongan Hj.Mahdumah Fadeli seusai festival mengatakan, saat ini begitu banyak makanan yang dijual tidak memperhatikan kebersihan dan kandungan gizi sehingga berpotensi menimbulkan penyakit. Ia menyatakan bersyukur memperoleh penghargaan itu meski belum memperoleh juara pertama,
Karena itulah lewat festival ini, lanjutnya, Lamongan berusaha mengenalkan kembali produk makanan lokal yang sudah terbukti lebih bergizi dari makanan modern. “Tinggal pengemasan produk dan promosi saja sehingga makanan ini akan menarik untuk anak-anak, “ ujarnya. (rif)

foto: Hj.Makhdumah menerima penghargaan.
DWP Dinas Kominfo Jatim //
Workshop Manfaatkan TIK, dan SIM

Dengan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), maka Sistim Informasi Manajemen (SIM) data PKK di lingkungan Provinsi Jawa Timur dipastikan akan semakin akurat dan up to date (terbarukan). Selain itu, dengan memanfaatkan TIK, maka sumber daya manusia akan meningkat sesuai tuntutan dan tantangan jaman di era globalisasi.
Ketua DWP Prov. Jatim Dra Hj Purmiasih Rasiyo MM saat membuka Workshop TIK bagi Pengurus DWP Provinsi Jawa Timur di Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Selasa (18/10) mengatakan, penyelenggaraan workshop TIK bagi Pengurus DWP juga merupakan tindak lanjut dari program DWP di bidang pendidikan. Selama ini, DWP telah menerapkan Sistim Informasi Manajemen (SIM) dalam akurasi pendataan PKK.
Dengan adanya SIM PKK, kita berkeinginan akurasi data dapat tercapai dengan baik dan berjalan dengan baik, mulai tingkat provinsi, kabupaten kota, bahkan hingga tingkat kecamatan. Hal ini dilakukan untuk menjawab tuntutan jaman yang selalu meminta adanya program kerja secara terencana dan berkelanjutan mulai bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.
Oleh karena itu, tidak ada kata terlambat untuk mau belajar, kata Ny.Rasiyo. Ini karena, era atau jaman telah masuk era digital dan teknologi informasi. Banyak anak anak bangsa sudah pandai dalam memanfaatkan teknologi, namun di lain sisi lain para orang tua masih gaptek (gagap teknologi). Inilah yang menjadi alasan, bahwa belajar untuk bisa harus terus dilakukan oleh para orang tua.
Di berbagai bidang, internet telah menjadi sarana yang efisien dalam menambah wawasan dan memperluas pengetahuan sebagai makhluk social. Karena dunia internet terus berkembang, maka harus bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif dalam berinovasi dan membuka peluang bisnis.
“Kita kan dapat pembinaan dan pendidikan ketrampilan, apa itu buat makanan, border, aksesoris manik manik, sulaman, atau kerajinan tangan lainnya. Dengan adanya internet, kita tinggal mencantumkan gambar barang, harga, dan alamatnya yang jelas, kita tampilkan di internet, maka lakulah dagangan kita. Ini berarti kita bisa memanfaatkan internet untuk berbisnis membantu keluarga dengan tanpa harus keluar rumah,” kata istri Sekdaprov Jatim ini.
Kepala Dinas Kominfo Provinsi Jawa Timur, Drs Sudjono MM mengatakan, memasuki era kesejagatan, informasi nyaris tak terbatas, persaingan semakin ketat, karena yang dihadapi tidak lagi lokal tapi global. Oleh karena itu, akuntabilitas, efisiensi, efektifitas, dan transparansi menjadi tuntutan yang harus dilakukan.
Dinas Kominfo Jawa Timur sesuai tugas pokok dan fungsinya melalui pemberdayaan masyarakat di bidang TIK siap memberikan fasilitasi dalam bentuk memberikan pelayanan atas permintaan masyarakat yang membutuhkan pembelajaran di bidang TIK. Pembelajaran oleh DWP merupakan gelombang II dari empat gelombang yang direncanakan. “Ini adalah kegiatan yang positif dalam rangka meningkatkan SDM kita untuk tidak gaptek. Karena itu, sinergi ini sangat baik sekaligus penyegaran bagi kita semua para bapak dan ibu yang memiliki anak anak didik di rumah. Kita tidak boleh ketinggalan dengan anak-anak kita,” tambahnya.
Menurut Sudjono, hingga kini Dinas Kominfo Prov Jatim telah memfasilitasi layanan internet berupa telecenter di 38 kabupaten kota. Dari jumlah itu, 29 kabupaten kota sudah berhasil dibangun telecenter, sementara 9 kabupaten kota akan diupayakan pada tahun 2012.
Kepala Bidang Pemberdayaan TIK Dinas Kominfo Jatim, Drs Mardijono MSi mengatakan, sesuai tugas pokok dan fungsinya melalui pemberdayaan masyarakat di bidang TIK siap memberikan fasilitasi dalam bentuk memberikan pelayanan atas permintaan masyarakat yang membutuhkan pembelajaran di bidang TIK. Beberapa lembaga yang sudah dilayani, antara lain Karang Taruna, Taruna Tanggap Bencana, Takmir Masjid, Pendamping Keluarga Harapan, Pengurus Pondok Pesantren, Mahasiswa, dan masih banyak lagi.
Materi workshop bagi DWP meliputi pengenalan komputer dan Microsoft Office. Selain itu, juga akan dibawa keliling dunia tanpa batas atau lebih dikenal dengan dunia maya/internet, pembuatan dan pemanfaatan email, millis, chating, facebook, blogger dan browsing. (rif)
Dharma Wanita Adpel Gresik
Kunjungi Yayasan Anak Yatim

Sebagai isteri insan pelabuhan dituntut peduli pada masyarakat di sekitar pelabuhan tempat suami bekerja. Seperti yang dilakukan Jumat( 07/10) lalu, Dharma Wanita Kantor Administrator Pelabuhan ( Adpel ) Gresik berkunjung ke Yayasan Perguruan Darul Islam Madrasah Asmaniyah Desa Kebongson, Kecamatan Gresik.
Rombongan dari Dharma Wanita yang dipimpin Ny. Ika Pramuningtyas Hermawan itu memberikan bantuan sembako berupa beras, minyak goreng, gula, makanan ringan, buku tulis, mie instan dan uang saku, yang diterima pengurus Yayasan Perguruan Darul Islam Penolong Anak Yatim dan Miskin Hj. Siti Mariyah.
Usai memberikan sembako, ibu Ik panggilan akrab Ny. Ika Pramuningtyas Hermawan mengatakan, bakti sosial semacam ini akan dilakukan pada setiap tahun, khususnya berkenaan dengan Hari Perhubungan yang jatuh pada 17 September. Isteri M. Hermawan itu mengatakan meskipun bantuan yang diberikan masih jauh dari harapan, namun itu semata sebagai tanda kepedulian Dharma Wanita Kantor Adpel Gresik kepada anak yatim dan miskin sekitar pelabuhan Gresik.
Sembako yang diberikan kepada 100 anak yatim dan miskin kali ini diperoleh sebagian hari iuran, penjualan kue dan usaha kerja anggota Dharma Wanita Kantor Adpel Gresik yang jumlahnya 51 orang. Kegiatan yang dilakukan diantaranya arisan secara berkala setiap bulan, membuat kerajinan yang layak terjual, menjual kue ke anggtota, dan hasilnya dipergunakan untuk bakti sosial.
Yayasan Perguruan Darul Islam Madrasah mengasuh anak yatim dan miskin sekitar 100 anak. Kegiatan meraka selain pelajaran formal juga diberi pelajaran non formal, yayasan ini membuka bantuan instansi/ swasta untuk memberikan bantuan berupa apapun. ( Har ).


Ketua PKK Kab.Gresik Pantau
Posyandu di Desa Pongangan

Pembangunan kesehatan sebagai bagian dari upaya membangun manusia seutuhnya antara lain diselenggarakan melalui upaya kesehatan anak yang dilakukan sedini mungkin sejak dalam kandungan. Upaya kesehatan yang dilakukan sedini mungkin sejak anak masih di dalam kandungan sampai lima tahun pertama kehidupannya, ditujukan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya sekaligus meningkatkan kualitas hidup agar anak mencapai tumbuh kembang optimal.untuk mencapai hal tersebut, tentu di butuhkan perhatian yang ketat baik orang tua maupun petugas kesehatan setempat.
Untuk memastikan bahwa balita selalu mendapat perhatian kesehatannya, Ketua TP PKK Kab Gresik Hj. Maria Ulfah Sambari beserta pengurus lainnya mengadakan peninjauan langsung di Posyandu Mawar Desa Pongangan.
Terlihat masyarakat sangat antusias sekali memanfaatkan Posyandu sebagai rujukan kesehatan anak mereka, para baita di cek perkembangannya, mulai dari perkembangan berat badan, perkembangan tinggi badan serta pemantauan kesehatan balita. Mereka diberikan makanan tambahan berupa susu, kacang hijau dan biskuit.
Pada kesempatan itu, Hj. Maria Ulfah Sambari ikut langsung menimbang dan mengukur perkembangan balita. Istri bupati Gresik ini di hadapan puluhan ibu-ibu menjelaskan upaya pembinaan tumbuh kembang anak diarahkan untuk meningkatkan kesehatan fisik, mental dan psikososial anak. Upaya tersebut dilakukan sedini mungkin dengan perhatian khusus pada bayi dan anak balita yang menerapkan “masa kritis” dan “masa emas” bagi kelangsungan tumbuh kembang anak.
Pembinaan perkembangan anak merupakan salah satu upaya prioritas dalam mempersiapkan anak kita menjadi calon generasi penerus bangsa yang sehat cerdas, ceria, tangguh dan berbudi luhur. “Saya berharap dengan keaktifan ibu-ibu mengunjungi Posyandu. Karena dengan aktif ke posyandu diharapkan mampu menurunkan angka balita kurang gizi, dimana tahun ini balita kurang gizi cenderung menurun,” tuturnya. (dwi)

62- lomba lukis HUT Semen Gresik

Lomba Lukis PT Semen Gresik

Minggu pagi (2/10) itu club sanggar lukis SG (PT Semen Gresik) mengadakan lomba lukis dan festival band bagi warga Gresik dan sekitarnya. “Ini merupakan acara rutin tahunan yang diselenggarakan sanggar lukis SG guna memperingat HUT SG,” kata Rahayu Puspawati, panitia acara.
Kali ini dengan tema lomba “festival siwalan” panitia lomba mengimplementasikan tema alam guna mendukung tema Do it Green yang sedang digalakkan SG,jadi semua serba alam. Suasana hening pagi berubah seketika ketika acara mulai dibuka.
Panitia mendatangkan beberapa juri berpengalaman dari luar sanggar lukis SG guna menilai hasil para peserta. Aspek yang menjadi kriteria penilaian melingkupi, pemahaman tema, ekspresi, warna, bentuk, ekstetika, kerapian, tambah Wati. Di setiap kelasnya panitia mengambil 5 pemenang guna mendapat tropi dan uang pembinaan.
Tidak hanya itu untuk mendedikasi hasil karya mereka, hasil kukisan para pemenang akan dipamerkan di Wisma A.Yani agar ada kepuasan tersendiri ketika mereka melihat hasil goresan tangan mereka ditonton banyak orang.
Dirut PT SG Ir.Dwi Sutjipto yang meninjau langsung jalannya lomba menuturkan, acara ini sangatlah bagus bagi generasi-generasi penerus. “Ini bukti kepedulian SG terhadap generasi penerus,” ungkapnya. Ia juga menuturkan, ini sebagai bukti bahwa SG tidak hanya bisa memproduksi semen semata, namun SG juga bisa menciptakan generasi yang berprestasi di bidang seni.
Dengan adanya lomba ini panitia berharap agar para peserta yang hadir lebih terpacu guna meningkatkan jiwa seni dan kreatifitasnya, baik melalui seni tari, lukis yang pada prinsipnya guna mendukung kemampuan formal yang didapat anak-anak melalui bangku sekolah. (har)


62- PKK Nganjuk Outbond Gentasibu

Ketua PKK Kab.Nganjuk Buka Outbond
Gentasibu...Nyata Aksinya, Terbukti Hasilnya.


Dalam rangka evaluasi program Gentasibu (Gerakan Pengentasan Gizi Buruk) periode II semester II, pada Selasa (11/10) TP PKK Kabupaten Nganjuk menggelar outbond bagi para kader Gentasibu. Sebanyak 405 kader Gentasibu dari seluruh wilayah Kabupaten Nganjuk berkumpul di alun-alun Kabupaten Nganjuk. Outbond dibuka oleh Ketua TP PKK Kab Nganjuk Dra. Hj. Ita Taufiqurrahman, Ak.,M.Si .
Acara outbond terdiri dari 4 sesi permainan, mulai dari permainan mutasi karet, permainan mumi, permainan memasukkan pensil dan permainan electric field. Ke semua permainan dilakukan secara beregu. Hj. Ita Taufiqurrahman, dalam sambutannya menyampiakan bahwa outbond ini bertujuan supaya kader-kader Gentasibu tidak jenuh dengan rutinitas sehari-hari yang terkait mengurus segala sesuatu tentang balita gizi buruk.
Acara ini sekaligus bertujuan untuk meningkatkan motivasi para kader dalam penanganan gizi buruk karena permainan-permainan dalam outbond ini lebih difokuskan mengenai permainan yang memerlukan kepedulian, ketelatenan, kehati-hatian dan kerjasama. Seperti halnya dalam menangani balita gizi buruk, para kader memerlukan rasa kepedulian, ketelatenan, kehatia-hatian dan kerjasama dengan orang tua balita dan tim gizi dari kabupaten.
Setelah mengikuti outbond, para kader mengikuti acara evaluasi dan pengarahan di pendopo Kabupaten Nganjuk. Dalam evaluasi tersebut disampaikan capaian-capaian program Gentasibu di semester II periode ini. Pada evaluasi kali ini saya akan langsung membahas pada capaian-capaian yang pada semester ini. Berdasarkan data yang dikumpulkan secara terus menerus setiap bulan, banyak perkembangan yang trendnya mengarah ke hal hal yang positif antara lain seperti yang bisa dilihat dari data berikut ini :
1. Kondisi awal dari 405 balita kurang gizi, 303 masuk kurus dan 102 masuk kategiri gizi buruk.
2. Trend penambahan berat badan meningkat sampai 99.51 % (403 balita)
3. Trends perubahan status gizi yang berubah menjadi lebih baik naik menjadi 89.94% (344 balita).
4. Angka kesakitan sekarang tinggal 34%, dan bahkan balita yang menderita sakit permanen seperti bibir sumbing sudah mendapatkan pelayanan operasi yang optimal. 5. Penderita gizi buruk dari 102 anak, pada saat ini tinggal 28 anak, dan perlu saya sampaikan bahwa anak yang berjumlah 28 ini sulit mengalami kenaikan berat badan dan status gizi, karena anak tersebut menderita sakit permanen yang sulit untuk disembuhkannya diantaranya seperti kelainan jantung, TB paru dan kelenjar, cerebal palsi, retardasi mental dll.

Melihat capaian –capaian program Gentasibu tersebut itu, bukanlah hal yang berlebihan jika memang program gentasibu adalah program yang benar-benar nyata aksinya dan terbukti hasilnya. TP PKK Kabupaten Nganjuk berkomitmen akan terus membantu pemerintah daerah Kabupaten Nganjuk untuk mengatasi gizi buruk karena masalah gizi buruk adalah tanggung jawab kita bersama. (rif)



62- Bude Karwo Terima Penghargaan Gemarikan 2011

Bude Karwo Terima Penghargaan Gemarikan 2011


Usaha pengurus Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Provinsi Jawa Timur untuk menggairahkan masyarakat gemar makan ikan tampaknya membuahkan hasil cukup gemilang. Di ajang Pameran Indonesia Fisher Expo (IFE) yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan RI di Balai Kartini Expo Center, Jakarta Pusat, Kamis (20/10) lalu Ketua Umum Forikan Jatim, Dra. Hj. Nina Soekarwo, MSi memperoleh penghargaan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) 2011.
Penghargaan berupa plakat tersebut diberikan Direktur Jenderal (Dirjen) Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan (P2HP) DR. Victor P.H. Nikijulun yang mewakili Menteri Perikanan dan Kelautan. Selain Hj.Nina Soekarwo, penghargaan yang sama juga diterima Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Prov.Jatim, Ir. Kardani, MM.
Kardani mendapatkan penghargaan mewakili Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang dinilai concern terhadap percepatan kepengurusan Forikan di wilayahnya. Ini karena, dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, kepengurusan Forikan sudah terbentuk semuanya.
Sementara diraihnya penghargaan yang diperoleh Bude Karwo, sapaan akrab istri Gubernur Jawa Timur itu dinilai pemerintah pusat karena mampu menggerakkan secara optimal kepengurusan Forikan yang ada di wilayah Jawa Timur.
Lewat kepengurusan tersebut, Bude Karwo berharap bisa makin menggairahkan masyarakat Jatim untuk menggemari makanan berjenis ikan. Dan semua keinginan itu dinilai Bude Karwo mendapat dukungan penuh dari seluruh pengurus Forikan yang ada di tingkat daerah. “Alhamdullilah, 99 persen seluruh istri bupati dan walikota di Jawa Timur menjadi ketua Forikan,” kata Bude Karwo.
Ia menambahkan, dalam menjalankan program yang sudah disusun, pihaknya melakukan kerjasama dengan Dinas Perikanan Prov. Jatim. Hasilnya, peningkatan konsumsi makanan ikan yang ada di tengah-tengah masyarakat sudah cukup signifikan. “Ini karena kami turun ke grass root. Jadi kami ngajak ibu bupati untuk turun dengan memprioritaskan pada mereka yang konsumsi makannya cukup rendah,” jelasnya.
Sementara menyoal harga ikan di pasaran, Bude Karwo menerangkan, kalau di Jatim, harga tersebut dinilai relatif masih terjangkau oleh masyarakat. “Saya kira sampai sekarang di Jatim relatif masih murah. Lele antara Rp. 15 ribu, saya kira relatif murah. Tempe tahu pun juga hampir sama,” jelasnya.
Namun, ia ingin, agar pola pikir masyarakat terhadap konsumsi makan ikan harus diubah. Terutama masyarakat di tingkat pedesaan. “Hanya di desa-desa yang kita harus mengubah sedikit mindset mereka yang masih menganggap makan ikan itu cacingan dan sebagainya. Itu masih ada di pelosok-pelosok desa,” ungkapnya. “Ini yang kita terjun. Dan terus terang saya himbau mereka untuk mengkampanyekan makan ikan ini karena untuk proses tumbuh kembang anak,” tambahnya.
Masih menurut Bude Karwo, pertumbuhan anak itu dipengaruhi oleh asupan makanan mereka. Di usia nol sampai empat tahun, konsumsi ikan dinilai sangat penting. Yakni untuk proses pembentukan dan pertumbuhan sel-sel otak anak. “Dan itu sangat dipengaruhi oleh asupan makanan dan protein yang ada di ikan sangat bermanfaat untuk stimulan di otak anak,” jelasnya.
“Jadi sekali lagi, tugas pengurus Forikan itu untuk mengampayekan bagaimana masyarakat secara sadar setiap hari harus ada ikan di rumah dengan harga yang murah,” tambahnya.
Saat ditanya soal program apa yang akan dicapai dalam upaya meningkatkan masyarakat menggemari konsumsi ikan di Jawa Timur, Bude Karwo menyebutkan, yang dilakukannya adalah mencoba dengan berbagai macam cara. Salah satunya dengan mengadakan berbagai-bagai lomba. Utamanya adalah dengan mengutamakan bahan dasar yang murah dengan dukungan protein yang tinggi.
Usai menerima penghargaan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, Bude Karwo menyempatkan diri untuk meninjau empat stand yang diikuti beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Timur. Ke empat stand itu di antaranya stand milik Kab. Blitar, Kab. Tulungagung, Kota Surabaya dan Dinas Kelautan dan Perikanan Jatim. Untuk stand Kab. Blitar memamerkaan ikan hias. Sedang Kab. Tulunggagung memamerkan ikan koki, Kota Surabaya memamerkan produk kerajinan hasil laut dan Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Jatim menampikan berbagai produk makanan berbahan dasar ikan.
Penghargaan juga diberikan Kementerian Kelautan dan Perikanan kepada tiga kategori yang berbeda. Di antaranya, kategori Rumah Makan (Resto), perorangan dan media massa. Untuk kategori Rumah Makan (Resto) diberikan kepada Resto Lele Lela. Lalu untuk kategori perorangan diberikan kepada dua orang sekaligus, yakni Ny. Tuti Soenardi dan Dr. Joko Mardjono, serta kategori media massa diberikan kepada Trans7. (rif)

62- Bude Lomba PKK

Sebanyak 30 PKK Kab/Kota se Jatim
Mengikuti Lomba 10 Program PKK


Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur memulai lomba 10 program PKK yang diikuti oleh 30 PKK kabupaten/ kota di Jatim. Lomba ini dimaksud untuk membina dan mengetahui apakah 10 program PKK, semuanya telah sampai di masyarakat. Baik masyarakat yang ada di kota maupun di desa.
Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Timur, Dra. Hj. Nina Soekarwo, Msi, saat memberikan pengarahan pada acara pembukaan Lomba 10 program PKK Provinsi Jawa Timur di Gedung PKK Jatim, Selasa (7/10) lalu mengatakan, gerakan PKK adalah muncul dari bawah yaitu dari dan untuk seluruh lapisan masyarakat.
“Untuk itu, kami yang ada di provinsi mengatakan bahwa PKK yang ada di desa sangat besar jasa dan perjuangannya. Karena mereka yang lebih tahu dan mengerti apa saja yang ada atau dibutuhkan dalam segala gerak pembangunan di desa. Tidak berlebihan kalau PKK yang ada di desa adalah merupakan garda yang paling depan sebab mereka merupakan ujung tombak pembangunan di segala bidang,” tuturnya.
Bude Karwo menjelaskan, PKK adalah merupakan organisasi sosial yang bekerja tanpa pamrih dan selalu menjadi partner atau mitra pemerintah dalam melaksanakan program pembangunan. Oleh karena itu, di setiap desa atau kelurahan harus dibentuk kader – kader PKK yang tugasnya memberikan penyuluhan dan pendampingan pada masyarakat yang mendapat masalah.
Seperti; masalah gizi buruk, ibu hamil atau kekerasan dalam keluarga dan masalah – masalah yang lain. Peran kader PKK sangat menentukan dalam keberhasilan pembangunan di desa, sebab mereka dituntut dapat mengimplementasikan dari 10 program pokok PKK dengan efektif.
Mengingat lomba- lomba PKK merupakan kesepakatan nasional, lanjutnya, maka keikutsertaan dari 30 Tim Penggerak PKK yang ada di Jatim ini harus sungguh- sungguh dan matang persiapannya, kecuali delapan Kab/ Kota lainnya yang sudah minta ijin untuk tidak mengikuti lomba. Peserta lomba yang keluar menjadi pemenang atau juara di tingkat Provinsi, otomatis harus berangkat ke Jakarta menjadi duta Jatim di tingkat nasional.
Menurut Bude Karwo, agar bisa menjadi juara lomba 10 program PKK harus memenuhi syarat yang menjadi kreteria, yakni tertib administrasi mulai dari dasa wisma sampai dengan provinsi; harus bisa bangun jejaring dan komitmen dengan seluruh komponen masyarakat dan pemerintah untuk mengefektifkan implementasi 10 program PKK, dan bisa mengembangkan inovasi dan membuat terobosan- terobosan guna mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat atau guna mengungkit potensi sumberdaya alam, sumber daya manusia dan sumber daya sosial di sekitarnya.
Adapun kriteria penilaian secara umum terdiri dari Input, proses dan output. Inputnya meliputi data awal, kebijakan dan dukungan pelaksanaan program baik dari pemerintah daerah, Tim Penggerak PKK, tokoh masyarakat atau tokoh agama setempat secara berjenjang, yang berupa produk hukum.
Sedang prosesnya adalah pelaksanaan aspek aspek kegiatan, inovasi/ terobosan. Dan outputnya adalah berupa hasil yang dicapai dari masing- masing aspek kegiatan.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Bude Karwo mengingatkan, bahwa kegiatan PKK telah mendapat pengakuan secara luas baik di tingkat local, nasional dan internasional, serta telah mendapat penghargaan dari badan dunia seperti WHO, Unicef, Unesco dan Asian management program. Ini adalah pembuktian bahwa gerakan PKK telah memberikan andil yang sifnifikan dalam pembangunan di Indonesia khususnya dalam menjangkau dalam keluarga di pelosok- pelosok pedesaan.
“Untuk itu, janganlah berkecil hati bagi semua ibu- ibu PKK baik yang ada di desa maupun di kelurahan. Karena jasa ibu- ibu sangat membantu saudara- saudara kita yang sangat membutuhkan,” tegasnya.
Sementara Ny.Subagio selaku ketua panitia lomba melaporkan, lomba 10 program PKK Jatim yang diselenggarakan selama dua hari kerja mulai tgl 11 s/d 12 Oktober ini diikuti 30 Tim Penggerak PKK Kab/ Kota yang ada di Jatim, terdiri dari 27 Kab dan 4 Kotamadya. Dari 30 Kab/ Kota tersebut diambil 5 nominasi untuk dipresentasikan dan diambil juara I,II dan III serta harapan I dan II.( dil)

Senin, 31 Oktober 2011

61- Batik Satrio Manah- Tulungagung

Ny. Triana
Batik ‘Satrio Manah’ Berkibar di Tengah Persaingan

Di tengahnya gencarnya setiap kabupaten/kota di Jawa Timur menampilkan produk unggulan, khususnya produk batik, ternyata tidak menggoyahkan usaha kerajinan batik ‘Satrio Manah’ yang terletak di desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung. Usaha batik ini tetap berkibar di tengah persaingan batik tanah air.
Adalah Ny.Tiana (51 tahun) pengusaha batik yang mengawali usahanya sejak tahun 1984 itu seakan tidak menghiraukan persaingan terjadi di tengah pasar. Perempuan yang kini mengendalikan 45 orang karyawan itu menganggap rejeki setiap orang selalu datang tidak salah sasaran.
Tahun-tahun awal ketika ia mulai usaha baik, tenaga kerjanya bisa mencapai 100 orang. Kini memang jauh berkurang, tapi omsetnya tetap tinggi. Tenaga kerja yang makin berkurang itu memang akibat terkena imbas krisis moneter 1997 lalu, dan masuknya teknologi batik yang semakin canggih. Ia tidak mau menyebut berapa omsetnya sebulan, tapi dalam 10 hari bisa terjual 300 potong bakalan batik yang nilainya rata-rata Rp 40 juta.
Hasil produksi itu diambil untuk toko-toko batik di seluruh Jatim, Kaltim, Jakarta, bahkan Malaysia dan Singapura. “Kelemahan kami untuk ekspor ke luar negeri memang masih melalui broker tertentu, belum bisa langsung ke konsumen,” jelas Ny.Tiana, Minggu (25/9) lalu di rumah yang sekaligus tempat produksi dan workshop.
Produksi batik Satrio Manah sendiri memiliki khas slogan pekat dan motif tertentu sesuai keinginan konsumen. Usaha ini merupakan satu diantara 10 usaha batik besar yang ada di Tulungagung. Bahkan produksi Satrio Manah motif ‘Berkisar’ pernah memperoleh penghargaan sebagai desain batik terbaik. Juga karya Satrio Manah dipesan khusus sebagai seragam batik pejabat dan panitia pada Hari keluarga Nasional tahun 2010 lalu.
Ny. Triana mengaku pihaknya mempertahankan batik tulis, namun tidak menutup kemungkinan memproduksi batik print, jika pemesan minta demikian, dan dalam kondisi mendadak butuh waktu pendek tapi pesanan banyak.
Perempuan dua putra ini mengaku telah memperoleh bantuan pinjaman pendanaan dari Bank Jatim dengan bunga rendah. Kini mengajukan pinjaman lagi Rp 100 juta dan masih dalam proses. “Pinjaman itu sangat membantu karena bunganya rendah yakni 6 persen setahun.” Jelasnya.
Kesulitan yang dihadapi saat ini adalah masalah bahan baku. Setiap kali ia butuh kain mori untuk bahan dasar batik, harus mendatangkan dari Solo, Pekalongan dan Semarang. Tentu saja butuh waktu dan harga bisa lebih mahal jika di Jawa Timur atau Tulungagung diproduksi kain mori.
“Saya dua minggu sekali mendatangkan 1.000 sampai 2.000 yard yang habis dibuat untuk 450 potong kain batik bakalan,” jelasnya.
Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Pasar Kabupaten Tulungagung, Drs.Edi Suyanto, Msi menyatakan. Keluhan bahan baku kain mori itu kini tengah dikoordinasikan dengan pihak terkait. Karena menyangkut industri kain skal besar, tentu saja pihak dinas perindustrian baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Bahkan soal keluhan hak paten yang diajukan Satrio Manah karena ada kesamaan nama dengan industri serupa di Pekalongan, kini tengah diupayakan jalan keluarnya. Apakah ganti nama, logo atau gambarnya. (ji)

61- PKK Ngawi Operasi Bibir Sumbing

PKK Kab.Ngawi Bakti Sosial
Operasi Bibir Sumbing Gratis

Dalam rangka memperingati Hari Jadi Ngawi ke 653 dan HUT RI ke 66, Tim Penggerak PKK Kab. Ngawi menggelar operasi bibir sumbing di RSUD dr. Soeroto. Bibir sumbing atau labioschisis ini memang banyak terdapat di Ngawi, maka tak heran bila operasi gratis yang dilaksanakan bekerja sama dengan Yayasan Permata Sari Semarang ini mendapat sambutan antusias masyarakat, khususnya anak anak dan balita dari Kecamatan Karangjati, Widodaren, Karanganyar dan Pitu.
Menurut Ketua TP PKK Kab.Ngawi Ny.Antik Budi Sulistyono, PKK bermitra dengan Yayasan Permata Sari Semarang menerjunkan tim medisnya, untuk membantu tindakan yang diperlukan, seperti melakukan pembedahan dan penyempurnaan fisik bibir sumbing.
Wakil Bupati Ony Anwar Harsono ikut hadir dalam operasi ini, mengharapkan bahwa kegiatan bhakti sosial semacam ini sangat bermanfaat, khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu. “Dengan operasi gratis semacam ini, masyarakat yang kurang mampu bisa terbantu dan juga bisa merasakan pelayanan kesehatan yang baik,” jelasnya.
Pemkab Ngawi merencanakan ke depannya Ngawi bisa terbebas dari bibir sumbing. Untuk itu kegiatan semacam ini akan lebih ditingkatkan dan mungkin akan diagendakan rutin setiap memperingati Hari Jadi Kota Ngawi dan HUT RI.
Harapan Wakil Bupati Ngawi ini juga didukung oleh semua pihak, termasuk dr. Hendro Wahyudiono, direktur Rumah Sakit dr. Soeroto. Ia mengatakan bahwa rata rata penderita bibir sumbing di Ngawi memang masih diderita anak anak atau Balita, sehingga ketika mereka di operasi pengembalian bentuk bibir ke bentuk normal bisa dilakukan lebih mudah.
Hal ini juga diperkuat oleh pihak Yayasan Permata Sari yang berpengalaman melakukan operasi bibir sumbing di beberapa daerah di Jawa Tengah. Menurut Endang Karsono, selaku ketua yayasan, cacat bawaan seperti bibir sumbing ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kekurangan gizi dan mineral, keturunan dan ketidakmampuan secara ekonomi. “Kami selalu siap membantu bila diperlukan,” jelasnya. (rif)